Thursday, January 31, 2013

Nightmare 3: The Last Island.




Halu, LOLs. Akhirnya kesampaian juga, nih, bikin trilogi Nightmare. Gue harap semua yang nyimak sekuel cermis ini udah pada baca dua episode sebelumnya, ya, biar kerasa suasana premisnya. Nightmare pertama ada di buku pertama gue (buku Wow Konyol!), Nightmare 2 ada di halaman sebelah blog ini. Nightmare 3, alias yang terakhir, bakal kalian simak di sini, sesaat lagi. Tetaplah bersama kami.

*iklan lewat*

Alkisah ...

Seorang perempuan bule asal Paman Sam mengunjungi sebuah pulau di ujung utara Nusa Tenggara Barat. Namanya pulau Lonjong (bukan nama sebenarnya). Pulau yang lumayan terasing ini jaraknya sangat jauh dari daratan Lombok. Untuk sampai ke sana, dibutuhkan perjalanan 6 jam dengan menggunakan speedboat. Wih, jauh banget, ya? Kalau pake sampan mungkin bakal memakan waktu sewindu.

Perempuan single atletis ini berparas sangat cantik. Mirip-mirip Kirsten Dunst gitu, LOLs. Namanya Joanna, umurnya sekitar 28-an. Dengan mengenakan kacamata hitam besar, dia tampak bak aktris hollywood. Sangat elegan dan ... Berintelejensi tinggi. #clue

Joan datang sendirian ke pulau ini. Tidak ditemani siapapun. Maklum, dia tidak suka keramaian. Menyendiri di tempat sepi adalah kegemarannya. Bersenggama dengan alam adalah kebiasaannya. Dan, menggauli perairan hijau toska adalah kegilaannya. Itulah Joanna. Perempuan misterius yang kelihatannya selalu tahu persis apa yang diinginkannya dalam hidup.

Pulau Lonjong adalah satu dari sedikit pulau berpenghuni yang berjejer di perairan Bali. Keindahannya sulit diungkapkan lewat kata-kata. Surga tersembunyi ini malah lebih dikenal turis-turis asing ketimbang turis ibu kota. Maklum, jaraknya yang terlalu terpencil agak meminimalisir hasrat untuk bertandang ke sana. Padahal, siapapun yang mengenal Maladewa, pulau Lonjong inilah Maladewa-nya Indonesia. *duh, jadi ngebet pengen ke Maldives. Kapan, ya, ada sponsor yang khilaf nawarin gue berangkat* *ditimpuk gadis*

Lokasi: Resort Mandala, jam 4.50 pm.

Setelah merapikan barang bawaannya di salah satu room cukup mewah yang menghadap ke pantai, Joan bergegas berjalan menuju pantai. Dia mengenakan pakaian minim (bukan bikini). Selain itu, Joan juga tampak menyelempangkan tas kecil yang entah apa isinya. Suasana pantai agak sepi. Maklum, bukan musim liburan. Dalam radius ratusan meter, terlihat beberapa orang bule masih menjemur gunung kembarnya hingga tanning total. Setelah dijemur, tinggal disetrika kali, ya, biar licin.

Nyol!

"Halo, Miss Joan. Perahunya sudah siap. Anda mau berkeliling sekarang?" sapa seorang warga lokal dalam bahasa Inggris yang fasih. Namanya Gandi. Dia terbiasa menyewakan speedboat kecil pada turis-turis di sana.

"Oh, halo. Mr. Gandi. Yap. Saya akan berkeliling sekarang," jawabnya, tentu saja dalam bahasa Inggris juga. Sengaja gue translate ke bahasa Indonesia biar pada ngerti. *padahal guenya yang nggak bisa bahasa Inggris*

"Baiklah, Miss. Tapi Anda harus ingat aturannya, ya. Anda hanya boleh diperkenankan mengelilingi pulau ini saja. Tidak boleh jauh-jauh. Untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk," kata Gandi.

"Hal buruk? Apakah pernah terjadi hal buruk di sini?"

"Ummh ... Yeah. Tapi kejadiannya sudah lama. Tidak ada yang perlu Anda takutkan."

"Ou, really? Please, tell me. Pernah ada kejadian apa di sini?" desak Joan penasaran. Dia membuka kacamata hitamnya.

"Baiklah, Miss. Jadi begini. 10 mil ke arah timur pulau ini adalah perairan hiu. Di sana banyak terdapat hiu-hiu dari berbagai spesies yang berbahaya. 2 tahun lalu pernah ada 5 orang turis asing dan 1 guide-nya menghilang di sana. Kemungkinan mereka menjadi korban keganasan hiu-hiu itu."

"Oh My God! Lalu, bagaimana kalian bisa tahu mereka menghilang karena diterkam hiu?" Joan meraba pundaknya yang merinding.

"Yap. Tentu saja dari boat yang ditemukan sudah tak berpenumpang. Diperkirakan mereka nekad turun dari boat untuk berenang. Bahkan, di dinding boat-nya pun ditemukan jejak terkaman dari gigi hiu," terang Gandi blak-blakan.

"Ouuh ... Itu mengerikan sekali," Ujar Joan sembari kembali mengenakan kacamatanya, siap untuk berburu sunset.

Lalu, benarkah mereka diserang hiu?


1 jam kemudian.

Joan masih memacu pelan-pelan boat-nya sembari tak henti-hentinya memanjakan matanya dengan panorama yang keji indahnya. Sunset di cakrawala barat tampak mengguyurkan jingganya menyapu samudera. Keindahan inilah yang membuat Joan terbuai, dan tidak sadar sudah meninggalkan pulau Lonjong terlalu jauh.

Setelah mulai gelap, barulah Joan sadar, ternyata Pulau Lonjong sudah tak tampak. Namun Joan tidak terlalu kaget. Kalau dia tidak bisa kembali ke sana karena kejauhan, dia bisa menepi di pulau kecil yang tak jauh dari situ untuk bermalam di sana. Betul. Rupanya Joan sudah mengantisipasi kemungkinan ini. Pulau yang tampak di depan matanya tak kalah indah. Ukurannya jauh lebih kecil, namun berpenghuni. Dari dekat, dia bisa melihat sebuah resort kecil tampak indah, berdiri megah di bibir pantai.

Joan pun menepikan boat-nya. Namun alangkah terkejutnya Joan saat pundaknya ditepuk seseorang dari belakang.

"Selamat datang di pulau kami yang indah ini, Miss."

"Ouh, Jesus Christ!! Oh, i'm sorry. Anda mengagetkan saya!" Pekik Joan.

"Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud menakuti Anda," ujarnya merasa bersalah.

"Tidak apa-apa. Kalau boleh tahu, ini pulau apa, Sir?"

"Oh ya. Perkenalkan, nama saya Hassib, dan pulau ini dinamakan sebagai The Last Island, alias Pulau Terakhir," jawabnya mantap.

"The Last Island? Kenapa dinamakan begitu?"

"Karena ini memang pulau terakhir yang ada di sini. Jika Nona melanjutkan perjalanan ke arah timur, Nona tidak akan menemukan pulau lagi. Di sana hanya ada perairan hiu dan pulau Papua, nun jauh di sana," terang Hassib dengan cakap.


2 jam kemudian ...

Setelah makan malam dan membaringkan tubuhnya di kamar hotel sebentar, Joan kembali beranjak keluar. Inilah saat yang paling menyenangkan buat Joan. Semilir angin malam dari pantai adalah sahabatnya. Dia akan menghabiskan waktu berjam-jam di sana untuk menikmati suasana, seperti yang biasa ia lakukan di pantai manapun yang ia kunjungi.

Di bibir pantai, Joan membaringkan tubuhnya lagi dengan berbalut jaket tipis. Suasana sekitar agak gelap. Joan hanya bisa mendengar deburan ombak kecil, dan melihat liukan daun kelapa yang tengah disetubuhi angin (ampun lah ini bahasanya).

Lalu ...

Dari kejauhan, Joan tampak melihat seorang bule pria tengah duduk termenung. Dia hanya mengenakan celana renang Speedo, bertelanjang dada, dengan tubuh tegap dan kekar. Tatapannya menghujam kosong, namun gemetar menggigil. Dia seperti tengah menahan nyeri yang hebat, namun disembunyikan. Parasnya juga terlihat pucat.

Joan memicingkan matanya, dan terus saja memperhatikan bule itu. Gelagatnya yang aneh tentu saja membuatnya bertanya-tanya, apa gerangan yang sedang dirasakan dan dipikirkannya? Joan tentu saja tipikal orang yang mengandalkan logika. Tak sedikit pun terbersit di pikirannya akan hal-hal aneh, seperti yang sedang kalian pikirkan sekarang.

Dengan ragu-ragu, Joan pun berdiri, dan menghampiri bule tampan itu. Joan yakin, dia pasti membutuhkan bantuan.

Namun, belum sempat ia menyapa sang bule, Joan terperangah luar biasa. Tiba-tiba saja bule itu memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Warnanya merah kecoklatan, kental, dan berbau busuk. Dia terus saja muntah. Muntah lagi, dan terus muntah.

"Oh my God!!! Hey, are you okeee?!!!" pekik Joan spontan. 

Namun teriakannya tidak digubris sama sekali. Bule itu malah berdiri, lalu berjalan mendekati pantai. Wajahnya semakin pucat, tatapannya semakin kosong, dan rautnya semakin dingin.

"Hey!! Anda sedang sakit!! Jangan ke sana!!" teriak Joan lagi.

Masih tak digubris. Sang bule terus saja berjalan menjauhinya, mengarah ke laut. Joan mengikutinya hingga tepi air, sementara orang yang dipedulikannya semakin hilang di balik kegelapan. Sesaat kemudian, manusia misterius itu pun menenggelamkan diri di kedalaman, dan tak pernah muncul lagi.

Sesaat tubuh Joan membeku bak es, sampai akhirnya dia nekad menyusul bule itu untuk menyelamatkannya. Dengan tangkas, dia menyelam kesana-kemari untuk menemukan tubuh sang bule. Namun apa hasilnya? Tentu saja sia-sia. Joan sama sekali tak menemukan apa yang dicarinya. Sang bule itu hilang ditelan ombak.

Joan pun panik seketika. Dalam keadaan basah kuyup, dia berlari ke arah resort untuk mencari bantuan. 

Di lobby resort, Joan berhenti dan memutar pandangannya ke setiap penjuru untuk mencari orang. Hingga akhirnya dia menemukan Hassib tengah berdiri di belakang meja resepsionis.

"Oh, thank God! Hey, Hassib. Ada yang tenggelam di pantai! Kau harus membantunya!!" teriak Joan, tentu saja selalu menggunakan bahasa Inggris, karena ia hanya sedikit menguasai bahasa Indonesia. Banyak mengerti ucapan yang didengar, namun kesulitan mengucapkannya sendiri.

Setali tiga uang dengan sikap bule itu, Hassib sama sekali tidak menggubris teriakan Joan. Posisi tubuh Hassib membelakanginya. Entah apa yang dilakukan karyawan resort itu, dari belakang ia tampak seperti sedang menggaruk-garuk wajahnya dengan membabi buta.

"HASSIB!! HEYY!! LISTEN TO ME!!" bentak Joan sembari menarik lengan baju Hassib hingga memutar menghadapnya.

Pemandangan mengerikan pun langsung membuat jantung wanita cantik itu runtuh. Rupanya Hassib tengah mencabik-cabik wajahnya dengan pecahan gelas kaca. Separuh wajahnya habis, hingga tengkorak giginya tampak menyembul seperti tengah menyeringai bak hendak menerkam Joan hidup-hidup.

Joan terbangun dari tidurnya. Keringat dingin tampak membasahi keningnya. Nafasnya menderu hebat. Kenapa mimpi itu terasa begitu nyata?! Mimpi macam ini?! Bagaimana mungkin Joan mendapat mimpi buruk di tempat seindah ini? Pertanda apa ini?!

Tubuh Joan masih gemetar. Namun ia tidak merasa takut sama sekali. Hanya sedikit shock. Ia hanya butuh air mineral untuk menstabilkan gemetar di tubuhnya. 

Saat tegukan terakhir masuk ke mulutnya, gelas yang dipegang Joan pun terlempar.  Dia kaget luar biasa. Seseorang yang berpakaian mirip teroris; muka ditutup kain hitam; mendobrak pintu kamar Joan dan menyeretnya hingga ruangan resepsionis.

Rupanya di sana sudah berkumpul beberapa orang turis asing juga seperti Joan. Sebagian pria, dan sebagian lainnya wanita. Kaki dan tangan mereka terikat kuat. Beberapa diantaranya tampak menangis histeris, beberapa lainnya berusaha menenangkan yang lain. 

Bagaimana tidak, beberapa detik lalu mereka harus menyaksikan pembunuhan sadis di depan mata mereka. Hassib, seorang resepsionis yang berusaha melindungi tamu-tamunya, menjadi korban pertama dari kekejaman para penjahat itu. Wajah kirinya hancur tertembus timah panas dari laras panjang. Luka itu mirip dengan bekas cabikan yang Joan lihat di mimpinya barusan. Jadi inikah makna dibalik mimpi itu?

Sementara "tamu-tamu tak diundang" yang berjumlah 4 orang itu dengan beringas membentak semua tamu dan sesekali menghajar mereka dengan keji. Tanpa belas kasihan, tanpa rasa kemanusiaan. Sangat menyedihkan. Liburan yang seharusnya menjadi hal menyenangkan, harus berubah menjadi petaka.

"Kau jangan takut. Ini hanya penyanderaan biasa. Mereka hanya menginginkan barang-barang kita. Tidak apa-apa. Semua bakal baik-baik saja," bisik seorang bule bermata biru pada teman wanitanya yang tengah menangis ketakutan.

Joan, yang juga berada di samping mereka, mendengar bisikan itu. Sungguh, ucapan pria itu mampu membunuh kepanikannya juga. Memang betul. Ketika kamu berada dalam posisi bahaya atau mengerikan, hanya ada dua tindakan bijak yang bisa ditunjukkan: mengatakan, "Semua akan baik-baik saja," atau "Aku juga takut, sama sepertimu." 

Ingatlah, dalam kondisi apapun, membuat orang lain merasa tidak sendiri akan membuatmu merasa tidak sendiri. Saat kamu memberi, sesuatu akan kembali. Semangat inilah yang bakal membuat kamu stay strong.

Masih dalam keadaan tangan terikat ke depan, Joan melirik ke arah seorang Ibu muda yang ada di samping kanannya. Dia juga sedang gemetar ketakutan, sama seperti Joan. Rasa iba pun melintas di benaknya.

"Cincin Anda bagus. Itu cincin platinum khas ukiran France. Apa Anda mendapatkannya di sana?" tanya Joan, berusaha menenangkan suasana. 

"Oh ... Yah. Ini cincin pemberian suamiku. Dia memang memesannya di France. Lihat, ada ukiran nama suamiku di sisi luarnya," jawab Ibu itu di tengah isakannya. Dia menunjukkan ukiran yang membentuk kata 'MALFOY' di cincin itu dengan rasa bangga.

"Malfoy. Nama yang bagus. Dimana suami anda sekarang?"

"Dia meninggal karena kecelakaan tahun lalu, tepat di ulang tahun pernikahan kami yang ketiga," bisik ibu itu dengan lirih. Matanya tampak berkaca-kaca, namun senyuman ikhlas tersungging di bibirnya yang kering.

"Oh ... I'm so sorry ..."

"Tidak apa-apa. Kalau kejadian di malam ini akan membawa saya menemui suamiku, aku rela. Anda tahu? Saya sangat merindukannya," jawabnya. Beberapa tetes air mata tumpah membelah pipinya.

"Anda jangan bicara seperti itu. Ini hanya penyanderaan biasa. Mereka hanya menginginkan barang-barang kita. Percayalah, semua akan baik-baik saja," ujar Joan menirukan ucapan pria yang ada di sampingnya. Tangannya yang terikat menjulur meraih tangan sang ibu muda. Jemari mereka bertemu dan saling meremas untuk saling menguatkan.

"Kau sudah kumpulkan barang-barang mereka?!" tanya salah satu dari kawanan perampok itu dalam bahasa Indonesia, yang kemudian dibalas anggukan oleh partner in crime-nya.

"Oke! Sekarang ambil semua barang yang menempel di tubuh mereka!!" perintahnya lagi.

Dengan pasrah, para sandera pun membiarkan bajingan-bajingan itu menyambar apapun yang dipakai mereka. Kalung, jam tangan, anting-anting, termasuk cincin platinum itu pun tak luput dari incaran mereka. Bahkan tanpa malu-malu, salah satu kawanan perampok itu mengenakan cincin tersebut di depan pemiliknya.

"Sudah selesai! Tembak mereka sekarang, jangan sisakan satu orang pun!!" perintah sang pemimpin kawanan perampok lagi.

Teriakannya sontak membuat sebagian sandera yang mengerti tercengang bukan kepalang. Sebagian lainnya yang tidak paham terlihat gelagapan dan bertanya ke sesamanya dengan raut panik, "What? What will happen next?! Hey!" 

Joan, salah satu yang paham dengan perintah itu, tampak menahan nafas dengan debaran jantung yang masif. Lagipula, bagaimana mungkin mereka bertindak sekeji itu? Jika hanya bermotif perampokan, mereka tidak perlu menghabisi sandera. Apalagi wajah mereka ditutupi kain. Bukan suatu ancaman, kan, jika mereka membiarkan para sandera itu hidup? Ini benar-benar gila! Bahkan mereka tidak mengharap tebusan sama sekali. Ada apa ini?!

Belum selesai keterkejutan itu menyengat bak aliran listrik, timah panas berukuran besar dari senapan laras panjang pun meletup satu-persatu. Diiringi jeritan ketakutan yang membahana, pelurunya melesat menembus jantung para sandera. Darah pun seketika membuncah menggenangi lantai. 

BANGG!! 

Peluru kesekian kalinya masih dimuntahkan dari senjata mematikan itu. Kali ini sang timah panas bersarang di dada kiri ibu muda pemilik cincin. Joan tidak melepaskan cengkeraman tangannya. Dia membiarkan ibu mudah itu menyungkurkan tubuhnya di pelukannya. Sepertinya Tuhan mengabulkan harapan terakhir sang ibu muda itu.

Sesaat kemudian, Joan pun menutup kedua matanya, namun tidak menunduk. Hatinya seakan tengah berbicara pada Tuhan, pertanda ia siap menghadapNya.

BANGG!! 

Timah panas terakhir pun terbenam di perut Joan. Darah yang mengucur dari tubuhnya mengiringi maut yang hendak menjemputnya. Kepala Joan membentur lantai. Tersungkur dalam posisi tengkurap. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Sementara tak jauh dari tempatnya, tampak seorang turis pria tengah meregang nyawa. Pria itu tak henti-hentinya memuntahkan darah dari mulutnya. Joan tahu, dialah bule pria yang dilihatnya dalam mimpi. Betul. Makna dari mimpi buruknya sudah terkuak sekarang. Mata Joan masih terbuka. Dari kejauhan, dia masih bisa menatap dedaunan kelapa yang meliuk disapu angin. Telinganya pun untuk terakhir kalinya masih bisa mendengar deburan ombak. Sangat damai, meski tragis.

"Kubur mayat-mayat ini sekarang! Ingat, jangan sampai meninggalkan jejak!!" perintah sang pemimpin lagi.

Tapi Joan belum mati. Dia hanya pura-pura mati meski harus merasakan nyeri hebat menghantam perutnya. Bibirnya sedikit tersenyum. Tuhan belum mengizinkannya mati. Meski keadaannya sangat menyiksa, ia yakin rasa sakit itu tidak akan membunuhnya. Senyuman di bibir Joan semakin tersungging. Dia harus bertahan. Itulah yang terlintas di pikirannya. 

Sementara suasana di ruangan hening. Joan tak mendengar suara apapun lagi. Tidak ingin membuang kesempatan, perempuan malang itu pun segera menggerakan tubuhnya. Darah yang tak henti-hentinya mengucur di perutnya sama sekali tak dipedulikannya. Yang ia pedulikan cuma satu, melarikan diri untuk mencari bantuan sesegera mungkin.

"ADA YANG MASIH HIDUP!! TEMBAK DIA!!" jerit seseorang.

Joan tersentak! Secepat kilat ia memutar kepalanya ke arah suara. Namun, secepat itu pula ujung senapan yang dicengkeram kuat itu membidik dahinya dari jarak 1cm.

BANGG!! Satu peluru lagi dari laras panjang pun melesat menembus kepala Joan.

Seperti Nightmare di episode-episode sebelumnya, LOLs. Joan melompat dari tempat tidurnya. Mimpi panjang, mimpi di dalam mimpi, mimpi bertingkat, mimpi yang merupakan vision (baca: penglihatan) itu tak pernah gagal mengejutkan para messenger-nya. Tak terkecuali Joan. Mungkin inilah mimpi paling buruk yang pernah ia jumpai dalam tidurnya. Mimpi yang memiliki pesan kuat, firasat yang hebat, dan petunjuk yang tak boleh diabaikan.

Keringat dingin mengucur semakin deras di sekujur tubuhnya. Nafasnya semakin menderu hebat. Apa yang menimpa Joan kali ini sukses membunuh logikanya, seakan ia menemukan keajaiban sekaligus kutukan dalam mimpi buruknya barusan.

Bagaimana tidak, ruangan tempat ia terjaga ini sudah tak secantik seperti saat ia memejamkan mata beberapa jam lalu. Kini, ia hanya melihat sarang laba-laba menghiasi langit-langit kamar. Debu-debu setebal karpet menyelimuti seluruh permukaan lantai. Bahkan seluruh ruangan di resort itu kini hanya tampak bak rumah hantu. Gelap, kotor, berantakan dan bau busuk khas menyengat dari seluruh penjuru. Entah bau darimana.

Setelah menenangkan hati dan pikiran yang bergejolak sedari tadi, Joan pun segera bergegas meninggalkan Pulau Terakhir. Ketakutan dan kepanikan masih menyerangnya bertubi-tubi hingga kini.

Sebelum memacu gas speedboat-nya, tatapan mata Joan menyorot ke arah resort untuk yang terakhir kalinya. Pemandangan dramatis pun tampak. Ternyata Pulau Terakhir itu adalah pulau mati. Tak ada kehidupan manusia di sana. Akal sehatnya bahkan belum mampu mempercayai semua peristiwa-peristiwa ganjil yang menimpanya sejak tadi sore. 

Ini aneh, tapi terjadi. Bagaimana mungkin indera penglihatannya bisa tertipu oleh panorama yang tampak tidak seperti kelihatannya? Bagaimana mungkin dia berbicara dengan seseorang di sana dan bahkan sempat makan malam yang membuat perutnya kekenyangan hingga sekarang? Makanan apa yang disantapnya? Tak ada ilmu yang sanggup mengungkap fenomena seperti ini. Lagi-lagi pundak Joan dibuat merinding hebat membayangkannya.


Lokasi: Pulau Lonjong, 2 jam kemudian.

"Nona Joannaaa!!! Ya Tuhan, Anda kemana saja?! Saya sangat cemas menunggu Anda sejak tadi!" pekik Gandi begitu melihat Joan merapatkan speedboat-nya.

"Mr. Gandi, saya mohon maaf! Tapi, saya terpaksa terlambat mengembalikan boat Anda." Joan menghampiri Gandi sembari menyeka keringat dingin di lehernya.

"Tidak apa-apa, Nona. Tapi Anda membuat semua orang cemas di sini. Saya sudah menyiapkan tim untuk mencari Anda jika dalam satu jam Anda tidak kembali."

"Sekali lagi maafkan saya. Tapi saya harus mengungkap kasus menghilangnya 5 orang turis itu, Pak," ujar Joan dengan nafas terengah.

"Ha?! Maksud Anda apa? Kasus itu sudah ditutup. Bagaimana cara Anda mengungkapnya? Bahkan polisi pun tidak pernah bisa menemukan jawabannya."

"Saya sudah menemukan jawabannya, Pak. Saya akan mengungkapnya. Tapi saya tidak bisa melakukannya tanpa bantuan Bapak."

"Baiklah kalau begitu. Apa yang bisa saya bantu?" jawab Gandi dengan polos, namun semangat.

"Mr. Gandi, sebenarnya saya adalah agen CIA yang sengaja datang ke sini untuk menyelidiki kembali kasus turis-turis yang menghilang itu," terang Joan.

"Oh, ya Tuhan. Sudah saya duga, Anda memang tidak terlihat seperti turis kebanyakan. Jadi Nona Joanna ditugaskan oleh pimpinan Anda untuk menyelidiki kasus itu?"

"Sebenarnya tidak, Pak. Saya datang ke sini secara pribadi. Entah kenapa, saya selalu merasakan kejanggalan dari awal. Hati kecil saya berkata, turis-turis asal Amerika itu tidak mungkin menghilang karena serangan hiu."

"Lalu, bagaimana cara kita menemukannya, Nona? Dengan senang hati saya akan membantu."

"Kita tidak perlu mencarinya lagi. Saya tahu mereka tidak pernah kemana-mana." Joan menarik nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan, "Mereka dikubur di Pulau Terakhir," Tutupnya.

Gandi tersentak. "Astagaa ... Anda yakin? Darimana anda tahu, Nona?" 

"Oh ... Umm ... Mungkin ini kedengaran tidak masuk akal. Tapi ... Saat saya sengaja berkunjung ke pulau itu untuk kepentingan penyelidikan, saya mendapat vision. Saya mengalami mimpi buruk yang mengungkapkan kejadian yang sebenarnya." terang Joan panjang lebar. 

Sebelum membuat Gandi semakin keheranan, Joan tidak berhenti membeberkan semuanya. Dari mulai ia bertemu dengan Hassib; yang dilaporkan sebagai guide yang menghilang bersama kelima turis itu; check in di salah satu kamar resort, hingga seluruh peristiwa maut yang ia lihat dalam mimpi panjangnya. Bagaimana para perampok itu menghabisi nyawa Hassib dan kelima tamu yang sedang menginap di sana.

"Ini benar-benar aneh, Nona. Tapi bagaimana pun, Nona tidak mungkin mengada-ada karena Nona mengenal Hassib. Anda bertemu dengan Hassib, Nona! Dia adalah sahabat saya dari kecil. Sejak mendengar kabar duka tentang Hassib, saya sangat terpukul. Jika Nona benar-benar bisa mengungkap kasus ini, saya tidak akan melupakan jasa Anda," pekik Gandi dengan mata berkaca. Giginya gemeretak menahan amarah dan dendam.

"Saya janji, saya akan membuktikannya. Tapi Anda harus membantu saya," jawab Joan sembari menepuk bahu Gandi.

"Apa yang bisa saya lakukan, Nona?" 

"Saya belum begitu yakin dimana titik paling tepat tempat penguburan jasad-jasad pelancong itu. Maka dari itu, besok Anda dan saya harus kembali ke sana untuk mencarinya. Ini tidak akan memakan waktu lama. Jika memang benar pernah ada penguburan masal di sana, saya pasti bisa menemukan jejaknya. Setelah itu, baru kita bisa melibatkan kepolisian untuk menindaklanjuti kasus ini," kata Joan.

"Baiklah, Nona. Kalau begitu, mari saya antar Nona ke kamar. Nona harus banyak istirahat supaya besok kembali fit," ujar Gandi masih semangat. Dia menjulurkan tangan kirinya ke arah Joan untuk mempersilahkannya jalan di depan. 

Nah, di sinilah keterkejutan Joan menemui puncaknya. Kepalanya terasa seperti diledakkan oleh senjata laras panjang tatkala ...

JOAN MENATAP CINCIN BERUKIR NAMA MALFOY ... MENYEMAT DI JARI MANIS GANDI!

Sedemikian hebatnya keterkejutan itu, hingga nyaris membuat Joan tersungkur jatuh. Nafasnya tercekat. Seluruh tubuhnya mendadak kaku seakan terimpit beton besar. Matanya menatap tajam ke arah Gandi. Kepalanya sedikit menggeleng seolah tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Sosok yang begitu ia percaya ternyata ...

"Anda kenapa, Nona? Anda baik-baik saja?" tanya Gandi dengan penuh keheranan.

"Oh ... Umm, yak! Saya tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing. Sebentar ya, saya harus mengambil tas yang ketinggalan di boat Anda," tepis Joan dengan perasaan berdebar tak karuan. Jujur, meski ia agen CIA sekalipun, situasi seperti ini baru kali ini ia jumpai seumur hidupnya. Bagaimana mungkin ia begitu bodoh membeberkan semua hasil penyelidikannya pada sang psychopat? Pelaku yang seharusnya ia ringkus.

Joan harus memiliki taktik untuk menghadapi Gandi. Setidaknya untuk langkah awal, ia tak akan menunjukkan sikap yang mungkin membahayakannya. Seorang bajingan saja mampu bersandiwara seakan-akan berduka karena kehilangan sahabat yang dibunuhnya, maka ia tak boleh kalah taktikal.

Setelah mengambil tasnya dari dalam boat, Joan kembali berdiri untuk menghampiri Gandi. Tapi tiba-tiba saja ...

BHUKK!!!

Sebuah dayung besar menghantam keras wajah Joan hingga membuatnya tersungkur jatuh. Seketika kepalanya terasa berkunang-kunang. Di dalam boat itu, darah segar mengucur di atas pelipis matanya. 

"Jadi, Anda melihat cincin ini juga di mimpi konyol Anda itu?!!" sungut Gandi sembari menunjukkan cincin platinum itu. Suaranya terdengar begitu dingin. Dia masih mencengkeram dayung itu di tangan kanannya.

"Saya tidak mengerti maksud Anda," jawab Joan sembari berusaha menghentikan pendarahan di pelipisnya.

"Saya yang tidak mengerti dengan Anda. Bagaimana mungkin agen rahasia sekelas CIA hanya mengandalkan mimpi untuk mengungkap kasus? Apa itu yang biasa dlakukan di negara Anda? Warga Anda di sana sudah banyak. Bahkan mayat-mayat dibiarkan tergeletak di pinggiran jalan dan rel kereta. Untuk apa Anda membuang-buang waktu datang ke sini hanya untuk mencari tengkorak? Menyedihkan!" umpat Gandi. Nadanya semakin naik.

"Kita bisa membicarakan ini. Saya tahu Anda tidak melakukan pembunuhan itu. Anda hanya diperalat. Saya janji, saya akan membebaskan Anda dari kasus ini." Joan berusaha mengendalikan situasi.

"Hahahahahaha ... Anda pikir saya bodoh? Saya tahu apa yang saya butuhkan, bukan kebebasan seperti yang Anda janjikan. Omong kosong! Asal Anda tahu, saya yang menggali kuburan untuk turis-turis bodoh itu. Dan apa yang membuat Anda berpikir saya akan membiarkan Anda hidup, sementara sahabat saya sendiri berani saya habisi? Anda siapa? Berlagak sok heroik, lalu datang ke sini untuk mengacaukan semuanya. Turis-turis itu mati karena orang-orang seperti Anda!"

"Apa maksud Anda?!"

"Semua karena investor asing dari negara Anda yang sudah menghancurkan bisnis pariwisata kami di pulau ini! Pulau Terakhir itu awalnya tidak berpenghuni. Sampai orang-orang berduit dari negara Anda datang ke sini, dan membangun fasilitas lengkap di pulau itu. Lalu apa imbasnya buat kami?! Pulau ini menjadi sepi pengunjung. Semua turis yang biasa datang kemari lebih memilih mengunjungi Pulau Terakhir. Bisnis perhotelan warga lokal di sini dibuat sekarat karena perbuatan mereka!!"

"Jadi itulah kenapa kalian merencanakan pembantaian itu? Untuk menutup kembali Pulau Terakhir itu?" cecar Joan. Semuanya masuk akal sekarang. Pantas para perampok itu menghabisi semua sandera. Ternyata ada motif yang jauh lebih penting dari sekedar merampas benda-benda milik mereka. Benda-benda hasil rampasan itu hanyalah bonus.

"Saya tidak pernah meragukan kecerdasan Anda."

"Tapi kenapa harus mengorbankan mereka? Mereka tidak bersalah." tanya Joan. Posisinya semakin tersudut, baik secara fisik maupun mental.

"Hah! Hidup memang tidak adil ya? Terkadang Anda harus menginjak tubuh yang tidak berdaya agar terlihat tinggi. Mereka memang tidak memiliki masalah apa-apa dengan kami. Tapi mereka adalah properti paling sempurna untuk memuluskan rencana kami. Mereka hanya sedang sial harus berada di waktu dan tempat yang salah!"

"Bagaimana dengan Hassib? Kenapa anda menghabisi sahabat sendiri? Apakah dia juga properti?" cecar Joan lagi. Dia masih harus mengulur waktu.

"Dia pengkhianat. Cuma dia satu-satunya orang yang bersedia bekerja di pulau itu. Disaat sodara-sodaranya sendiri di sini nyaris mati kelaparan, dia bersenang-senang di sana dengan menjadi budak Amerika!"

"Lalu, bagaimana dengan ..."

"Sudah cukup!! Anda sudah cukup mengulur waktu saya! Anda tahu saya harus segera menyelesaikan ini. Semua yang ada dalam posisi saya, harus melakukan hal yang sama, bukan? Tidak ada yang rela membiarkan masa depan keluarganya dihancurkan, hanya karena sebuah penglihatan yang konyol!" tutup Gandi sembari menghampiri Joan. Dia mulai mengangkat dayung itu tinggi-tinggi, dan mulai mengayunkannya ke arah Joan.

Joan tak tinggal diam. Setelah sedari tadi menyembunyikan tangan kirinya bersama tasnya, akhirnya ia berhasil membuka tas itu diam-diam untuk mengambil sesuatu. 

Sepersekian detik kemudian, sebelum dayung itu menghantam tubuh Joan, tangan kirinya bergerak lebih cepat untuk mengacungkan sepucuk pistol ke arah Gandi.

BANG! BANG!! BANG!!

Revolver bergagang cokelat itu memuntahkan tiga buah timah panas hingga bersarang di jantung Gandi. Seketika itu juga dia jatuh terjungkal, lalu mengambang di tepi dermaga kecil. 

Joan menghela nafas panjang. Matanya menatap nanar ke arah jenazah yang berdarah. Entah kenapa, ada perasaan aneh berkecamuk di dadanya kini, terutama mengenai motif pembantaian itu. Masalah investor-investor asing yang kerap menyudutkan warga lokal memang sudah menjadi persoalan klasik. Bukan hanya di Indonesia, bahkan di negara-negara maju pun masih tak kalah sengitnya.

Contoh yang paling kuno adalah warga suku Aborigin yang kalian tahu bagaimana nasibnya. Warga Indian yang semakin terpinggirkan. Warga Melayu asli di Singapore yang ter-marginal-kan. Lalu, jarang sekali kita bisa menemukan orang Bali asli bisa menempati jabatan penting di bisnis perhotelannya. Bahkan, orang-orang betawi asli yang banyak menjual tanahnya ke para investor itu, tahu sendiri, kan, bagaimana imbasnya sekarang? Jadi wajar kalau sampai menimbulkan kecemburuan sosial yang sporadis dalam kasus tertentu. 

Masalah penanam modal memang bak pedang bermata dua. Kemajuan suatu daerah karena jasa para investor terkadang harus dibayar mahal oleh pengikisan eksistensi warga lokalnya. Imbasnya, mereka harus terusir secara moral, finansial dan tentu saja sosial. Ini hanya kasus, ya. Tidak seluruhnya harus berakhir seburuk itu.

Oke, yang ini nggak usah kita bahas, terlalu rumit. Gue aja nggak terlalu paham, kok.

Yang pasti, kasus konspirasi dan pembantaian keji yang menimpa turis-turis itu bisa dituntaskan hanya lewat penglihatan. Setelah diselidiki kembali hingga melibatkan federasi USA terkait, kasus itu pun berhasil diungkap. Otak dari konspirasi itu rupanya pemilik resort Mandala sendiri. Salah seorang warga lokal yang begitu membuta hatinya hanya karena merasa kalah bersaing dalam bisnis. Mendendam, lalu membantai. Bengis, biadab, sekaligus menyedihkan.

Berangkat dari kata hati yang membisikkan kekuatan, Joanna, seorang agen CIA junior ini datang jauh-jauh dari belahan bumi lain hanya untuk menemukan jawaban atas kasus besar yang masih menggantung di udara. Mungkin karena niat tulusnya ini, Tuhan menunjukkan jalan melalui kebesaranNya. 

Sekali lagi. Kebesaran Tuhan itu ada, terpampang nyata, bahkan disaat kamu tersesat di ujung dunia.

*maaf, Syahrini. Gue pinjem stensilannya*


Sekian, ya, cermis dari gue. Mudah-mudahan mengentertain. Buat yang mau komentar, silahkan di box comment. Atau kalau mau komentar di twitter, boleh, jangan lupa hastag-nya #Nightmare3

Sampai ketemu di cermis gue berikutnya ... *cipok merosot*



Thursday, January 10, 2013

Nightmare 2: Edelweis.





Loh, kenapa itu judulnya ada angka duanya? Memangnya ini sekuel atau lanjutan, ya?

Yap, LOLs. Buat lo yang udah baca buku Wow Konyol, di segmen pamungkas ada cermis gue yang dikasih judul sama, Nightmare. Nah, di cermis kali ini gue nyoba bikin lanjutannya. Bukan lanjutan dalam segi ceritanya, melainkan dari segi premisnya.

Nightmare 2.

Kalau di Nightmare pertama mengisahkan tragedi yang dialami seorang ibu yang harus menerima kenyataan menyedihkan, di Nightmare 2 giliran seorang ayah yang harus menerima kenyataan jauh lebih menyedihkan. Premisnya sama aja, triler dan alurnya yang beda.

Enak, ya, kalau nge-share cermis di blog. Kita nggak perlu begadang. Nggak ada mention-mention yang mengganggu, apalagi komentar-komentar yang sengaja diniatkan untuk memanipulasi ke-fokus-an gue. Di sini kayak lagi menunggangi Ferrari di sirkuit Santiago Bernabeu, aman, licin, bebas hambatan. Mehehe ...
*ditempeleng Madridista*

Alkisah ...

Seorang ayah muda yang tinggal berdua sama putri kesayangannya, setiap hari sepulang dari aktifitas selalu menghabiskan waktu bersama. Rumah mungil mereka terletak di pinggiran kota kecil yang asri di wilayah Jawa Tengah. Gadis tanggung yang baru duduk di bangku sekolah menengah kelas 8 ini biasa dipanggil Loca (baca: Loka) oleh sang ayah. Sementara Biyan, nama ayahnya, biasa disapa Abi oleh sang putri.

Ibunya Loca meninggal dunia 2 tahun yang lalu saat melahirkan adiknya. Saat mengetahui putra keduanya lahir dalam keadaan tidak bernyawa, sang ibu langsung kena serangan jantung dan meninggal selang beberapa jam kemudian.

Sampai saat ini, sang ayah belum menemukan pendamping yang tepat untuk menggantikan istrinya. Pernah beberapa kali dia dekat dengan wanita, tapi selalu gagal karena Loca tidak pernah menyukainya. "Yang baiknya mirip sama Bunda nggak ada ya, Abi? Ya udah nggak usah usaha lagi, deh, Bi. Mendingan Abi mendekatkan diri sama Allah aja daripada sama wanita," Katanya diplomatis. Bagi sang Ayah, apapun keputusan putrinya, itulah keputusannya. Siapapun pilihan putrinya, dialah pilihannya. Kebahagiaan putrinya adalah segalanya saat ini.

Sudah dua hari ini Pak Biyan harus menikmati kesendirian di rumahnya. Loca sedang mengikuti kegiatan camping selama 3 hari bersama teman-teman sekolahnya. Kegiatan itu diadakan di lokasi cagar alam yang disebut Gunung Linjo. Itu memang kegiatan sekolah. Acaranya sendiri sengaja diselenggarakan setiap tahun untuk melatih fisik dan ketangkasan siswa-siswinya.

Lokasi: Cagar alam Gunung Linjo (nama disembunyikan). Jam 4.40 pm.

"Locaaa!" Panggil Elyn, sahabat Loca. Dia berlari menghampiri Loca.

"Kenapa, Lyn?" Jawab Loca.

"Kamu lagi ngapain di sini?"

"Oh, aku lagi ngobrol sama orang sini. Dia dari Pecinta Alam gitu."

"Ha? Terus sekarang kemana orangnya?" Selidik Elyn sembari mengernyitkan alisnya.

"Mm, Udah pergi, Lyn," jawab Loca gugup.

"Loca, kamu jangan bikin aku takut, ah. Aku tuh merhatiin kamu dari tadi, dan kamu lagi ngobrol sendirian!" Kata Elyn setengah membentak.

Loca tidak menjawab. Dia malah kelihatan lega karena Elyn tidak sempat melihat dengan siapa dia bicara. Orang yang diajaknya bicara langsung menyelinap ke balik semak-semak karena dia tak mau siapapun melihatnya. Sementara bagi Elyn, keanehan itu sudah dirasakannya sejak kedatangan mereka di lokasi tempat camping ini. Loca sering pergi diam-diam, lalu setelah dicari, dia kepergok sedang ngobrol sendiri dengan lawan bicara yang tidak pernah tampak oleh kasat mata. Entah dengan siapa. #persoalan


Lokasi: Kediaman Pak Biyan. Jam 1.14 pm. Keesokan harinya.

Seorang ayah yang tengah merindukan putri kecilnya tampak tersenyum-senyum sendiri sembari meremas boneka babi kesayangan sang anak (kenapa harus babi, sih?). Sore ini Loca bakal kembali, dan beliau terlihat sudah tidak sabar menunggu kepulangan putrinya.

Selagi menunggu, Pak Biyan berusaha membunuh waktu dengan mengenang kejadian-kejadian kecil yang kerap beliau lewati bersama Loca. Meski Loca masih bocah, tapi sikapnya sudah bisa dewasa. Tiap pagi dia selalu bangun duluan untuk menyiapkan sarapan buat ayahnya. Nasi goreng plus telur ceplok setengah matang yang ditaburi lada hitam adalah sarapan favorit sang ayah. Menyeduhkan kopi, menyiapkan air hangat untuk mandi, bahkan sampai memanaskan mobil ayahnya, dia bisa, lho.

Ah, Loca Loca ... Siapa yang tidak bangga memiliki anak yang sedemikian pedulinya dengan kepentingan orangtuanya? Pak Biyan semakin mengembangkan senyumannya. Semua kenangan kecil itu tak urung membuatnya semakin merindukan sang putri.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Setengah jam kemudian, Pak Wiyo, guru olahraga sekaligus pendamping para siswa yang mengikuti kegiatan camping itu, mendatangi rumah Pak Biyan untuk menyampaikan kabar yang paling mencengangkan melebihi apapun. Kabar seburuk-buruknya, kabar seduka-dukanya.

Betul. Siang tadi Loca mengalami kecelakaan fatal hingga merenggut nyawanya. Gadis mungil tersebut terjatuh ke jurang saat hendak mengambil setangkai Edelweis di dinding jurangnya. Tebing dengan ketinggian 15 meter itu menjadi saksi dimana kepala Loca pecah, dan seluruh tubuhnya remuk menghantam bebatuan di dasar jurang.

Selama 3 hari lamanya Pak Biyan koma di rumah sakit. Saat mendengar kabar duka itu, beliau langsung kena serangan jantung, tersungkur, lalu baru siuman 69 jam kemudian (kenapa harus 69, sih?).

Bahkan Pak Biyan tidak sempat mengucapkan salam perpisahan. Tidak sempat melihat jasad putrinya, dan tidak hadir di pemakamannya. Kini, beliau hanya bisa meratap. Ribuan tetes air mata mengalir bak hujan membasahi batu nisan sang putri. Jutaan kepedihan menyayat-nyayat jantungnya bak neraka duniawi. Dan milyaran sel darah di pembuluh nadinya mendidih bak kobaran api yang hendak membakar tubuhnya.

Sebaik-baiknya orang adalah yang panjang umurnya, dan baik amal salehnya. Setegar-tegarnya orang adalah yang kehilangan segalanya, tapi tidak menghilangkan apa yang tersisa, yaitu ... nyawa sendiri. Meski bak zombi, Pak Biyan berusaha melanjutkan hidupnya dengan membawa berjuta kepedihan. Ditinggal sang istri dan kedua anaknya, apa yang lebih menyedihkan dari itu?

Kasus meninggalnya Loca ini sudah ditutup. Setelah dilakukan penyelidikan mendalam di tempat kejadian, hasilnya memang positif kecelakaan. Saat Loca--lagi-lagi--menyelinap dari keramaian, dia pergi sendirian menuju tebing itu untuk mengambil Edelweis. Jejak sepatu yang ditemukan di akar yang menggantung di dinding tebing, semakin meyakinkan pihak penyidik kalau Loca terpeleset di sana dan terjun bebas ke bawah. Sama sekali tak ditemukan tanda-tanda sabotase atau kesengajaan yang tampak untuk mencelakainya.

Benarkah?


Lokasi: Kediaman Pak Biyan. Jam 12.46 am. 2 minggu kemudian.

"Ya Allah, jika Engkau berkenan, hadirkanlah putri hamba dalam mimpi hamba malam ini. Hamba sangat merindukannya. Izinkan hamba mengucap kata perpisahan untuk terakhir kalinya. Amiin ..." Ucap Pak Biyan sesaat sebelum beliau memejamkan matanya untuk terlelap. Setetes air mata tampak membelah pipi yang pucat itu. Doa yang teramat kuat saat terpanjat, bukan hal yang tak mungkin terkabul saat itu juga.

Namun, rupanya Tuhan tidak mengabulkan harapan itu. Keesokan paginya, Pak Biyan terbangun lebih cepat dalam keadaan seperti biasa. Tanpa kesan, tanpa mimpi indah, tanpa apapun yang mampu diingatnya.

Dengan gontai, beliau melangkah ke arah ruang makan, dan menemukan sesuatu yang sudah tidak asing lagi di matanya. Pak Biyan melihat menu sarapan yang khas, sudah tersaji di sana.

Sepiring nasi goreng dengan telor ceplok setengah matang, lengkap dengan secangkir kopinya, terpampang jelas di atas meja!

Pak Biyan terperangah kecil. Bagaimana bisa? Pintu rumahnya terkunci semalam, dan tidak mungkin ada orang bisa menyelinap masuk begitu saja, meski itu saudaranya sekalipun. Lagipula, kenapa aroma makanan itu begitu mirip dengan masakan yang biasa dibuatkan oleh Loca? Dan, selain istri dan Loca sendiri, tak ada yang tahu beliau suka telur setengah matang dengan taburan lada hitam. Siapa yang melakukan semua ini?

Pak Biyan belum mau menyentuh makanan itu. Dia segera bergegeas kesana kemari untuk mencari orang lain di rumahnya. Tidak ada, beliau belum menemukan siapapun. Pak Biyan lagi-lagi dibuat terperanjat saat menemukan air hangat sudah disiapkan di toilet untuk keperluan mandinya.

Bukan hanya itu. Kekalutannya semakin menjadi-jadi tatkala beliau mendengar suara mesin mobil meraung di garasi. Jantung Pak Biyan berdegup nyeri! Ada apa ini?! Siapa yang melakukan semua kebiasaan-kebiasaan putrinya?! Jerit batinnya.

"Selamat pagi, Abi. Udah sarapannya?" Sapa Loca dengan semangat.

"Astaghfirullahaldziiim! Siapa kamu?!" Bentak Pak Biyan sembari meremas dadanya yang berdegup semakin hebat. Matanya menatap tajam ke arah Loca. Tubuhnya gemetar tak karuan. Bagaimana mungkin ...?!

"Abi?! Abi kenapa?! Ini Loca, Abi! Kenapa Abi bersikap seperti ini?!" Tukas Loca tak kalah sengitnya. Dia merasa, sikap ayahnya sangat aneh hari ini. Sebenarnya apa yang terjadi pada ayahnya? Bagaimana mungkin ingatannya lenyap hanya dalam semalam?

Nah, lo. Sebenarnya siapa yang aneh, nih? *nyeduh kopi*


Setelah bergumul dengan keganjilan yang terjadi di pagi itu, akhirnya Pak Biyan mengalah. Beliau tak pernah menceritakan tragedi itu karena tak mau membuat Loca sedih. Kini, perlahan ketakutannya surut. Setahap demi setahap kekalutannya mulai menjelma menjadi kebahagiaan. Putri kesayangannya sudah kembali! Beliau tak menyangka doanya semalam dikabulkan Tuhan melebihi harapannya. Bukan hanya lewat mimpi, namun juga lewat kehidupan nyata. Entahlah, meski ini aneh, Pak Biyan tetap mensyukurinya. Meski ini tak masuk akal, Pak Biyan akan menerimanya dengan hati terbuka.

Loca sudah kembali! Pak Biyan akan menjaganya seribu kali lebih baik dari sebelumnya. Tak akan pernah beliau biarkan hal buruk apapun menimpa lagi putrinya, itulah tekadnya. Keajaiban itu mampu mengembalikan semangat hidupnya hanya dalam sekejap mata.

Sementara Loca sendiri tetap merasa ada yang tidak beres dengan sikap ayahnya saat itu. Ketika sang ayah memeluknya erta-erat, dia hanya bisa membalas pelukannya dengan perasaan waswas. Tapi, ya, sudahlah. Mungkin ayahnya habis mengalami NIGHTMARE yang nyata semalam hingga membuatnya hilang kesadaran. Semua bakal baik-baik saja, bisik hatinya.

Begitulah pertemuan mengharukan itu terjadi. Seperti biasa, keseharian ayah dan anak itu kembali dijalani dengan penuh sukacita, dengan penuh rasa cinta. Tak pernah henti-hentinya Pak Biyan bersyukur atas keajaiban yang dilimpahkan Tuhan padanya. Bahkan orang-orang disekitarnya seolah dibuat amnesia atas tragedi itu. Mereka memperlakukan Loca layaknya manusia pada umumnya. Tak ada tanda-tanda keanehan yang ditunjukkan mereka.

Hingga suatu hari di sore yang sejuk ...

Sepulang sekolah, Loca menghampiri ayahnya sembari mendekapnya dari belakang.

"Abi, lusa sekolah Loca mau ngadain camping di Gunung Linjo selama 3 hari. Loca boleh ikut, ya, Bi?"

*Pak Biyan langsung keselek microwave*

"ASTAGHFIRULLAH!!! TIDAK!! KAMU TIDAK BOLEH IKUT!!" Bentaknya dengan suara lantang. Dadanya kembali berdegup nyeri. Entah kenapa, beliau seperti menyadari sesuatu atas keganjilan yang beliau hadapi mengenai putrinya itu. Sedikit-demi sedikit semuanya mulai terasa masuk akal sekarang, namun juga terasa semakin rumit.

"Abi kenapa, sih?! Kalau nggak boleh, ya, bilang aja nggak boleh. Nggak usah membentak Loca!" Timpal Loca sembari terisak, sampai kemudian tangisannya pecah meraung. Itu adalah sikap terburuk sang ayah yang pernah ia terima seumur hidupnya.

Pak Biyan terperangah. Sungguh, beliau tak pernah berniat menyakitinya. Bentakan itu keluar dari mulutnya begitu saja, karena beliau tahu, di tempat camping itulah malapetaka mengerikan itu akan merenggut nyawa putri satu-satunya.

Pak Biyan bergegas mengambil kalender, dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Ternyata tanggal yang ditunjukkan di kalender tersebut sesuai dengan hari yang sama, dimana beliau mengizinkan Loca pergi beberapa minggu lalu. Namun, bukan bentakan yang beliau luapkan. Saat itu beliau hanya menjawab, "Tentu, Sayang. Kamu sangat menginginkan ini dari dulu, kan? Tentu kamu boleh ikut," Jawabnya, yang kemudian dibalas lonjakan kegirangan dari sang putri.

Pak Biyan termangu. Dengan gusar, beliau mencopot kacamata plus-nya. Ini semakin tak masuk akal. Bagaimana mungkin Tuhan sengaja mengirimkan beliau ke masa lalu, ke masa dimana hari-hari menjelang insiden maut itu akan terjadi? Insiden yang akan meremukkan tubuh bidadari kecilnya.

Apakah Tuhan sengaja melakukan itu untuk memberinya kesempatan? Untuk menyelamatkan Loca? Entahlah.

Pak Biyan menghampiri Loca yang masih menangis di atas sofa. Sungguh. Beliau sangat menyesalkan sikapnya barusan. Rasa iba yang hebat menyergapi hatinya kini.

"Loka, Sayang. Maafkan Abi, ya. Abi nggak bermaksud kasar sama kamu. Abi cuma kuatir." Pak Biyan mengelus rambut Loca sebelum akhirnya melanjutkan, "Kamu boleh ikut, kok. Tapi dengan syarat ..."

"Syarat apa, Bi?" Tanya Loca dengan mata berbinar.

"Abi akan ikut untuk menjagamu. Tapi Abi janji, Abi nggak bakalan mengganggu kamu. Abi akan mendirikan tenda jauh-jauh dari kamu, jadi teman-temanmu nggak akan tahu kalau ada Abi di sana. Kalau kamu nggak setuju, terpaksa Abi melarangmu pergi. Bagaimana?"

Yah, dengan terpaksa Loca mengiyakan syarat itu kalau ingin sang ayah mengizinkannya. Dia tahu persis watak ayahnya. Sekali bilang tidak, selamanya akan tidak untuk hal yang sama. "Tapi beneran ya, Bi, teman-teman Loca nggak bakal tahu sama kehadiran Abi? Kan, Loca malu, Bi, kalau sampai mereka tahu," jawab Loca, yang kemudian disambut anggukan dan kecupan hangat dari sang ayah.


Lokasi: Cagar alam Gunung Linjo. Jam 10.30 am. 4 hari kemudian.

Ini sudah hari kedua setelah Pak Biyan memutuskan untuk menjadi pengawal putrinya. Dari kejauhan, beliau tampak mengamati gerak-gerik putrinya yang sedang mengikuti kegiatan outbond. Tidak sedetik pun matanya lengah saat mengawasi Loca. Pak Biyan tahu, kecelakaan yang akan merenggut nyawa Loca itu akan terjadi besok pagi.

Beliau bersumpah, tak akan pernah membiarkan tragedi itu terulang kembali untuk yang kedua kalinya. Bahkan beliau rela menggantikan posisi Loca di dasar jurang, jika itu bisa menyelamatkan nyawa anaknya. Demikianlah tekad Pak Biyan selama puluhan jam terakhir ini. Dan, itulah yang membuatnya cemas tak terkira hingga selalu membuatnya terjaga sepanjang malam.

Lalu, apakah tekadnya akan berjalan semulus rencananya? Apa benar kekuatan cinta seorang ayah mampu mencegah tragedi itu? Sanggupkah beliau menyelamatkan nyawa sang putri? You'll find the answers soon.


Keesokan paginya.

JENG GONJRENGG!!

"Pak, saya izin, ya, mau ke toilet sebentar," kata Loca pada guru pembinanya, Pak Wiyo.

"Boleh. Tapi jangan jauh-jauh. Di tempat biasa aja, ya," Jawab Pak Wiyo.

Dengan semangat, Loca pun melangkahkan kakinya menjauhi tenda. Saat pandangannya memutar ke arah bukit di atasnya, di sini lah bunga Edelweis itu sukses menarik perhatiannya, dan membangkitkan gairahnya untuk memetik mereka beberapa tangkai.

Setelah beberapa lama menyusuri jalan setapak menuju tebing, Loca pun akhirnya sampai di atas. Dengan nafas terengah, dia mulai menghampiri tepi jurang itu.

"LOCA!! HENTIKAN!!!" Jerit seseorang dari belakang.

"Abi?! Bikin kaget aja! Kok Abi tahu Loca di sini?!" Jawab Loca dengan raut terpana.

"Tentu saja Abi tahu. Abi menginap di sini semalaman!"

"Ya ampun, Abi! Kenapa Abi melakukan itu?! Kalau Abi sakit, gimana?"

"Abi nggak peduli. Kamu mau mengambil bunga Edelweis, kan? Kamu tunggu di sini. Biar Abi yang mengambilkan buat kamu," Perintah Pak Biyan. Hfffh, hampir saja beliau terlambat mencegahnya.

"Abi yakin?"

"Tentu saja. Tapi kamu janji sama Abi, kamu nggak bakal mendekati tepi jurang itu, ya! Kamu tunggu di sini, apapun yang terjadi! Kamu janji?!" Perintah Pak Biyan lagi sembari mengguncang pundak Loca.

"E, iya, Abi. Abi tenang aja. Loca janji bakal menunggu Abi di sini," jawab Loca dengan tatapan heran. Ayahnya selalu saja bersikap aneh akhir-akhir ini, seolah-olah beliau tahu Loca akan celaka. Tentu saja beliau tahu.

Dengan sigap, Pak Biyan pun menuruni jurang yang cukup curam itu. Untuk ukuran orang dewasa, sepertinya tak terlalu sulit melakukannya. Banyak akar menjuntai di dinding jurangnya yang bisa digunakan sebagai pijakan dan pegangan.

Pak Biyan semakin turun, semakin mendekati kuncup-kuncup bunga abadi itu. Kini, tangannya mulai meraih batangnya, dan siap memetiknya untuk diberikan pada Loca. Tatapan Pak Biyan sejenak menukik ke bawah, dan merinding hebat saat membayangkan tubuh anaknya pernah tergolek remuk di sana. Astaghfirullah, ucapnya seraya mencengkeram setangkai Edelweis di tangan kirinya.

Setelah selesai menantang maut, kini Pak Biyan mulai memanjati kembali dinding jurang itu. Matanya mendongak ke atas, dan tak melihat apapun selain akar yang meliuk-liuk. Beliau hanya ingin memastikan Loca menepati janjinya dengan tidak beranjak dari tempatnya. Setelah Pak Biyan sampai di atas nanti, tragedi maut itu tidak akan pernah terjadi. Misinya selesai. Pak Biyan dan putri kesayangannya akan kembali ke rumah dengan selamat.

"Sayang, kamu masih di situ, Nak?" Panggil Pak Biyan dari dinding tebing.

Senyap.

"Sayaaang. Kamu masih di atas, kan?!" Panggilnya lagi dengan sedikit berteriak.

Senyap.

"Loca!! Jawab Abi, Nak! Kamu masih di atas?!!"

Tetap senyap.

Pak Biyan mulai panik. Dengan cepat, beliau buru-buru memanjati akar itu untuk melihat keadaan putrinya. Hanya tinggal dua atau tiga titian lagi, kepalanya akan menyembul di atas dan bisa melihat situasi di sekitar tebing.

Beberapa detik kemudian, pemandangan paling mencengangkan pun sukses membuat jantung Pak Biyan hancur hingga berkeping-keping! Dalam sekejap, beliau segera tahu apa yang tengah menimpa putrinya di atas.

Mulut Loca tengah dibekap seseorang dalam keadaan terlentang, diringkus ... dan diperkosa dengan leluasa!

"BAJINGAAAAAAN!!!! HENTIKAAAAAAN!!! BANGSAT KAU, WIYO!! ANJING KAU, HENTIKAAAAAAN ...!!!!

Jeritan sang ayah pun pecah membelah hutan. Bunga abadi di cengkeraman itu lepas dari tangannya dan menukik ke dasar jurang. Gemeretak gigi yang menahan amarah meledak memecah kesunyian.

Namun apa yang terjadi kemudian? Kemurkaan yang meluap itu sama sekali tak digurbris oleh Pak Wiyo, seakan dia tak mendengar apapun, tak menyadari kehadiran siapapun. Masih dalam keadaan leluasa, bajingan itu terus saja melancarkan aksinya bak binatang.

Dengan mulut masih dibekap, Loca tampak menjulurkan tangannya ke arah sang ayah seolah meminta diraih, namun terlalu jauh. Begitu memprihatinkan. Begitu menyayat hati.

Tangisan dan jeritan memilukan dari sang ayah pun seakan tak ada artinya. Tubuhnya seolah terikat rantai di sana hingga tak mampu digerakkan. Hatinya semakin hancur, jeritannya yang masih menggema terdengar semakin memilukan dan nelangsa. Tuhan hanya mengizinkannya menyaksikan perilaku biadab itu, tanpa membiarkan beliau melakukan sesuatu. Ini kejam. Sangat kejam! Kenapa Dia begitu tega?

Hingga akhirnya semuanya tampak semakin jelas. Setelah puas memenuhi hasrat bajingannya, iblis itu memakaikan kembali rok pramuka yang dipakai Loca. Lalu, dalam keadaan tak sadarkan diri, Loca dibopong mendekati tepi jurang.

"Tidak! Aku mohon, Wiyo, jangan lakukan itu! Jangan kumohon, jangan!!" teriak Pak Biyan dengan geram, namun memelas. Jelas beliau bisa membaca apa yang hendak diperbuat sang keparat itu.

Di depan mata dan kepala sang ayah, Loca di lempar ke bawah, terjun bebas, lalu mendarat dengan kepala pecah dan tubuh yang remuk.

"TIDAAAAAAAAAAAAK ...!!!"

Pak Biyan melompat dari ranjangnya. Keringat dingin mengucur hebat di seantero tubuh yang kurus itu. Itu adalah mimpi terburuk sepanjang hidupnya. Mimpi yang mungkin akan membuatnya gila untuk melanjutkan sisa hidupnya.

"Astaghfirullah ... Astaghfirulah ... Astaghfirullahaladziiiim ..." Jerit Pak Biyan sembari meremas dadanya yang berdenyut semakn nyeri. Beberapa saat lamanya beliau hanya bisa mematung. Tenggorokannya tercekat bak digantungi kapak besar. Sampai kemudian beliau tersadar, tangan kirinya ternyata tengah mencengkeram setangkai bunga abadi, dengan bentuk sama persis seperti yang beliau petik saat di dinding jurang itu. Bunga abadi yang menjadi saksi tragedi maut itu. Bunga tak kenal layu yang menguatkan tekad sang ayah untuk mengusut kembali kasus putri kecilnya.

Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya beliau menyadari ... mimpi buruk itu adalah penglihatan yang diberikan Tuhan untuk mengungkap kasus yang menimpa sang putri. Ternyata Tuhan mewujudkan doanya sebelum tidur, dan tetap melebihi harapannya. Bukan hanya bisa bercengkerama dengan Loca, namun Dia juga mengizinkan sang ayah untuk mengungkap kebenaran itu. Kebenaran yang kini masih tertimbun tanah di pekuburan.


Clossing storry.

Setelah Pak Biyan mampu membuat pihak penyidik terkesima dengan bukti fisik yang ditunjukkannya dari tubuh sang pelaku, kasus kecelakaan yang menimpa Loca pun dibuka lagi.


Bukti apa yang ditunjukkan Pak Biyan? Bekas cakaran dari kuku Loca yang menggemat di punggung bawah Wiyo. Dua garis memanjang bekas cakaran itu sempat beliau lihat dalam mimpi saat si iblis melancarkan aksinya. Lukanya sendiri memang sudah kering, namun bentuk garis yang digambarkan Pak Biyan ternyata sama persis seperti bentuk aslinya. Bagaimana mungkin itu hanya sebuah kebetulan?


Secara teknis, bukti tersebut memang tidak cukup. Apalagi hanya diperoleh dari mimpi belaka. Maka demi kepentingan bersama, kasus itu pun diusut lagi. Makam Loca dibongkar untuk dilakukan visum. Lalu hasilnya? Terbukti jelas, selaput dara Loca sudah robek karena dorongan benda tumpul (tetep, bagian yang ini nggak usah dipikirin).


Saat ditest DNA, semuanya baru masuk akal. Sang guru bajingan itu sudah tidak bisa berkutik lagi. Sesaat sebelum palu diketuk tiga kali di meja hijau, hukuman mati pun dijatuhkan.


Lalu, orang yang diajak bicara sama Loca dan tidak terlihat oleh Elyn itu siapa, ya? Tentu saja itu ayahnya Loca, Pak Biyan. Termasuk jejak sepatu yang ditemukan di akar itu, itu juga jejak sepatu sang ayah. Itu pula yang menjadi penyebab kenapa Loca sering pergi diam-diam, untuk menemui ayahnya.


Nah, lalu kenapa beliau tidak bisa terlihat? Karena beliau hanya petunjuk dan firasat bagi Loca. Kamu pernah dengar cerita orang yang punya teman khayalan? Nah, seperti itu. Kita tidak pernah tahu siapa teman khayalan itu. Bisa saja mereka adalah 'pelindung' bagi kawan hidupnya.


Semuanya memang sulit dijelaskan dengan nalar. Namun itulah misteri. Segala sesuatu yang berbau metafisika itu ada, meski banyak orang berusaha menolaknya dengan alasan tak masuk akal. Benarkah tak masuk akal? Atau hanya tak bisa menerima kenyataan akan keterbatasan sel otak untuk menjelaskannya secara ilmiah? Entahlah.


Yang pasti, kasus pembunuhan keji yang menimpa Loca, putri seorang ayah yang pantang menyerah itu, mampu diungkap dan dituntaskan hanya dari sebuah doa. Doa yang kuat dan penuh cinta.


Pesan moral:

"Keajaiban itu ada, dan kadang terjadi di saat yang tak terduga. Kebesaran Tuhan itu nyata. Dan kadang, kita hanya harus menerimanya dengan lapang dada, tanpa perlu logika, apalagi rumus matematika."


Sekian, ya, cermis dari gue. Yang mau komentar atau diskusi, silahkan di box comment. Atau kalau mau komentar di twitter, boleh, jangan lupa hastag-nya, #Nightmare2

Have fun, yall ... *cipok melengkung*





Friday, January 4, 2013

Uji-tes Emosional.


Coba lo buka youtube, terus search keyword: "I ate your halloween candy."
Di situ lo bakal nemuin para Mommy lagi ngerjain anak-anaknya. 

Seperti kita tahu, momen halloween di sono memang sakral banget, terutama buat anak-anak. Di malam halloween, bocah-bocah yang berusia antara 2 sampai 12 tahun itu bakal menyatroni rumah-rumah di sekitar kompleks mereka buat malakin permen sambil neriakin kalimat yang bernada ancaman, "Trick or treat?!" Tentu aja si penghuni rumah bakal ngasih permen atau coklat buat mereka. Sepertinya itu lebih aman dan murah daripada harus milih dijahilin.

Perjuangan berburu permen dan coklat itu pun bakal berakhir tengah malam, dimana kantong yang mereka bawa udah penuh sama cemilan-cemilan manis itu. Bagi mereka, berburu permen dan cokelat semalaman memiliki keasikan tersendiri dan kepuasan batin yang nggak bisa dinilai sama uang jajan. Di sanalah mereka belajar sesuatu yang penting untuk pertama kalinya: Hidup bukan sekedar perjuangan, melainkan persaingan. Siapa yang paling sukses, dialah yang memperoleh permen terbanyak. Siapapun juaranya, dialah bocah yang bakal diakui kehebatannya di komunitasnya. Seru, ya? 

Nah, coba sekarang lo bayangin, apa yang terjadi seandainya saat mereka bangun di pagi hari, lalu mendapati permen-permen hasil perjuangan mereka raib dari kantongnya? Sang Mommy tiba-tiba menghampiri anak-anaknya dan memberikan sebuah pengakuan, "Honey, i need to tell you something ... Ummm, last night, when i was hungry ... I ate all your halloween candy." 

DEGGG!!

Di sini lo bakal melihat berbagai ekspresi shock dari anak-anak mereka. Kalau lo nggak ngakak atau nggak ngerasa gemes nyimak tingkah mereka, please, hati lo mungkin udah abis dimakan rayap tadi malam.

Inilah reaksi-reaksi yang berhasil direkam sama para Mommy tadi:
Ada yang melotot tajam seolah nggak percaya, ada yang nangis sembari membanting botol minuman, ada yang ngancam-ngancam mau kabur dari rumah, ada yang jejeritan histeris sembari bersumpah serapah, ada yang teriak "I HATE YOU!!", ada yang menitikkan air mata seraya berucap "I'm not mad at you ... I'm just sad." Dan yang mencengangkan, ada bocah umur 5 tahun yang jelas-jelas belum paham apa itu pengorbanan, ternyata mampu bersikap dewasa dengan bilang "It's allright ... I just wanna make you feel happy," katanya dengan mata merah dan berkaca-kaca.

Awesome, kan? Kalau lo ada di posisi mereka saat itu, dan menyadari betapa jahatnya nyokap lo, reaksi mana yang bakal lo tunjukin saat tahu beliau memakan habis semua hasil perjuangan lo? Jangan ngaku-ngaku ya, gue nggak bakal percaya kalau lo milih reaksi bocah yang terakhir. Muahaha ... *ngakak bejat*

Inilah yang jadi tolak ukur gue juga saat harus menyampaikan kabar nggak enak didengar sama kalian tadi malem, "LOLs, maaf ya, cermisnya* belum bisa di-share sekarang. Idenya masih diracik, dan nggak tahu kenapa tiba-tiba triler-nya jadi berantakan ..." *plus emot sedih en nyesel*
(cermis: cerita misteri)

Beberapa saat kemudian, mention dengan berbagai reaksi pun berhamburan masuk. 

Ada yang kecewa, ada yang ngutuk gue, ada yang bersumpah serapah juga, ada yang lempeng-lempeng aja, ada yang kata-katanya nggak pantes dilontarkan sampai-sampai bikin gue sedih en sakit hati. Lalu, ada juga yang girang karena dia penakut dan akhirnya nggak perlu nge-mute akun gue, ada yang cuma ngasih emot nangis kejer, ada yang ngancam-ngancam mau nge-unfollow, ada yang minta gue turun dari jabatan gubernur gue,ada yang spontan nyekek neneknya saking emosinya, sampai kata-kata yang isinya tetep ngedukung gue dan berharap cermisnya bakal lebih seru lagi dari yang udah-udah.

Hfhhh .... 

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini gue udah share langsung jawaban-jawaban atas reaksi itu. Nggak pake rekayasa, nggak pake embel-embel apapun apalagi editan. 
Lalu, kenapa nggak di-capture aja, nyol? Udah gue coba, tapi mention dan retweet yang masuk kurang rapi. Jadi kalau disimak via picture, nggak nyaman ngebacanya.

Gue ulang lagi tweet 'kabar buruk'nya ya:
"LOLs, maaf ya, cermisnya belum bisa di-share sekarang. Idenya masih diracik, dan nggak tahu kenapa tiba-tiba triler-nya jadi berantakan ..." *plus emot sedih en nyesel*


Dan inilah reaksi-reaksi yang muncul kemudian:


@mymalfoy menjawab: "Malam ini! Pokoknya harus malam ini! Aku tunggu."

Kan idenya belum jadi. Kalau maksa di-share, terus nggak jelas ceritanya gimana?

@aprelaputri menjawab: "Aku nangis loh, om." T.T

Yang model begini, nih. Kadang bikin gue malah makin ngerasa bersalah. Hiks ...

@thahirahhh menjawab: "Ah elaah, si Onyol!! Ngeselin banget emang! Huh!!" :/

Speechless aja.

@MDerryPratama menjawab: "Kampret!! Udah ditungguin juga drtd!"

Speechless banget.

@NNahomaera menjawab: "Jiah, onyol. Padahal malam ini gue bela-belain on demi baca cermis lo!" :'(

Speechless kebangetan.

@galangraha menjawab: "Nyol, malam ini kamu ga bikin aku puas! Aku kecewa!"

Dipikirnya gue gigolo kali.

@spidHerman menjawab: "Lo tuh kayak anggota dewan aja, Nyol. Cuma janji-janji aja, tapi ga ada bukti!"

Nusuk, yaa .... Disamainnya sama pejabat pula. Sebusuk-busuknya analogi ... *nangis ngondek*

@Kundahyan74 menjawab: *exit*

Singkat, sih. Tapi kok nampar ya ...

@Hoppahh menjawab: "Mati lo Nyol, mati!" *plus emot nodongin laras panjang*

*hands up*

@namadisamarkan menjawab: "Ah, dasar ****** lo! ********* ****** gue ********* ****!! *unfollow*

*ngelus-ngelus dada plus istighfar* 
Nggak apa-apa. Gue nggak marah. Justru kemarahan membabi butanya doi ini gue acungi jempol. Segitu cintanya dia sama cermis gue, sampai-sampai emosinya meluap dahsyat saat gue absen nyermis lagi. 
Umm, lagi pula doi nggak bener-bener nge-unfollow gue ternyata. She mad at me, because she loves me ... Ah, cinta itu rumit ya. Terkadang dia bersembunyi dibalik kemurkaan, lalu meluap bersama kobaran api yang mematikan.

@D_aryaniii menjawab: "Oke deh. Pas banget gue lagi ga ada pulsa internet."

Ternyata alasan ekonomi ... 
*jadi inget waktu sekolah dulu. Gue beli kartu SIM perdana buat diliatin ke nyokap sebagai modus operandi, "Mak, ni onyol udah beli kartunya, tinggal hape-nya aja yang belum. Nomornya expire minggu depan, mak. Jadi harus cepet-cepet," tipu gue, sehari sebelum nyokap ngebongkar celengannya.

@veedeviii menjawab: "Yaaaah, padahal udah nungguin dari tahun kemaren."

Pinter amat nge-galau-innya. Kesannya gue absen nyermis lama banget, padahal emang baru ganti tahun.

@ZakieraFN menjawab: "Nonton SMTown aja, Nyol. Sekali-sekali ga horror gitu!"

Ide bagus. Gue langsung ngikutin sarannya. Alhamdulillah, nggak sampai 5 menit kemudian, gue ketiduran.

@randhikayuda menjawab: "No problemos domestosnomos, Nyol." *bakar obat nyamuk*

Thankiss. Untung hastar-nya nggak bakar gue.

@Rossifumi_Ngk menjawab: "Tenang aja. Gue orang tersabar ke-8 versi majalah Playboy."

Thankiss lagi. Nah, terus orang tersabar posisi pertamanya siapa?

@MilanTutuarima menjawab: "Cermisnya kapan aja gue tunggu, Nyol. Chemungud!"

*terharu*

@justcalledmewiq menjawab: "Ga apa-apa kok, Bang Nyol. Aku selalu menanti cermismu."

*termangu*

@DonnyCrushbone menjawab: "Siap, Nyol. Kami selalu setia menunggu cermismu!"

*terperangah*
Mungkin dialah orang tersabar pertama versi majalah Playboy.


Itulah beberapa reaksi yang ditunjukkan LOLers and Parabebep saat menanggapi kabar keabsenan gue untuk nyermis. Nggak bisa gue tampilin semua, tapi komentar-komentar yang diposting udah mewakili semua reaksi.

Mendengar kabar buruk itu menyebalkan memang, ya. Apalagi kalau berhubungan sama kepentingan pribadi kita. Cuma satu hal yang harus kita sadari, bahwa kedewasaan dalam bersikap tidak pernah ditentukan oleh banyaknya angka usia, melainkan besarnya hati kita. Seperti ilmu yang bisa didapat dari pengalaman, hati yang besar tidak selalu demikian. Kadang dia adalah bakat yang dianugerahkan Tuhan, atau cinta yang tercurahkan dari orang-orang yang tepat, dengan cara yang tepat.

Saat kalian membaca tulisan ini, mudah-mudahan bisa membakar perspektif yang berbeda dari seonggok hati yang menggantung di dada kananmu, ya. Membuatnya semakin terlatih dan terasah untuk menunjukkan reaksi yang lebih bijak akan kabar buruk yang mungkin bakal kalian hadapi besok, atau lusa.

Jika kalian percaya "kamu adalah dengan siapa kamu bergaul," percayai ini juga, "seberapa besar hatimu, bergantung dari seberapa kuat kamu menerima kebenaran dari kabar yang seburuk-buruknya."

Selamat buat @DonnyCrushbone yea. Lo berhak menyabet gelar sebagai si "The biggest heart of the year" versi gue. Begitu dibuka pre-order nanti, satu buku gue bakal mendarat di kediaman lo, dan lo bakal jadi pembaca pertama kisah "Udin" gue yang menggetarkan hati. Hell yeah. Buat yang lain, buku ke-2 gue baru bisa dikenyot 14 februari, ya. Numpang promo.

Siapapun yang udah mampir ke warung gue yang sederhana ini, thankiss, thanks an kiss bertubu-tubi buat lo. Sampai ketemu lagi di next post-yang-entah-kapan ... 
*cipok melengkung*


Oya, kalau kamu nggak mau ribet nge-cek video halloween trick itu, langsung aja ke sini, atau ke sini. Dianjurin buat ditonton dua-duanya, ya. 

Wednesday, July 11, 2012

Behind The Scene Of “Craziable Journey XLNetRally”

Saat diundang ke acara private salah satu provider selular terbesar ini, gue sempat bingung. Orang macam gue punya kepentingan apa ya dilibatin? Apa yang bisa gue “beri” untuk mereka? Sementara mereka ngasih segalanya buat gue. Gue sempat stuck saat nulis artikel ini. Banyak ilmu yang gue dapat setelah ikut ngerecokin, tapi enggak tau gimana cara ngebaginya. Yang terbayang di sanubari gue cuma kegilaannya aja. Yang tersirat di kepala gue cuma seru-seruannya doang. Yang tersimpan di memori kanan gue cuma renjer-renjer unyu yang ngekorin kita sepanjang perjalanan, yang entah kenapa mereka sangat objek-fantasiable banget. Mehehe.. 

 Renjer-renjer XL yang kecupable